Seorang pemuda yang bernama Ibnu
Wahab, dia hidup dalam keluarga yang sederhana, suatu hari dia bertemu
dengan seorang wanita yang bernama Aisyah Alhamro’, hatinya berdesir ketika
melihatnya, dia tak tau dari mana rasa itu dating, tiba-tiba ada di hatinya,
merasuk dan bersemayam tanpa terasa, dan barangkali itu adalah cinta,.. ya …
cinta, dia telah jatuh cinta pada Aisyah Alhamro’.
Seiring berjalannya waktu, mereka tumbuh menjadi lebih
dewasa dan lebih tau tentang diri mereka, orang tua Ibnu ingin putranya menjadi
orang yang bermanfaat untuk agama, dia di titipkan kepada seorang kiyai di
Demak, dan sejak saat itu dia jarang berjumpa dengan Aisyah, wanita yang tak
tau kalau dia di cintai oleh Ibnu Wahab.
Dua tahun berlalu, dia mempunyai rasa rindu yang
membara, hatinya bertanya-tanya, bagaimana, seperti apa, ada perubahan apa,
semua berkutat tentang Aisyah Alhamro’.
Suatu hari dia pulang dari penjara suci, dia bermaksut
mengungkapkan setiap hal yang ada di dalam hatinya, bahwa dia mencintai Aisyah
Alhamro’, tapi dia tak punya keberanian untuk mengungkapkannya, dan ternyata
Aisyah tak di rumah lagi, “eh,. Kamu tau
nggak.?” Kata Abdullah teman dekatnya, “Apa.?” Jawabnya dengan penuh penasaran,
“Sekarang Aisyah mondok di Groboka” “Owh,. Itu toh..” guratan kecewa tampak
jelas di mukanya, namun dia segera mengendalikan diri, menyembunyikan
privesi.
Dia kembali ke Demak dengan informasi baru,informasi
yang hanya untuk dirinya seorang, bukan yang lain, sekarang Aisyah seperjuangan
dengannya, hanya saja Aisyah mondok dan sedangkan dia tidak.
Musim liburan mulai dekat, banya anak-anak yang mondok
sudah mulai pulang ke rumahnya, termasuk juga pujaan hatinya, perasaannya pun
semakin membara, dan cintanya dib alas dengan senyuman tipis yang manis, malam
20 dari bulan juni dia mendapat sms darinya, dan dengan keadaan yang
mendukungnya, dia pun tak menyia-nyiakan kesempatan, dia mengungkapkan setiap
perasaan yang ada di dalam hatinya, dan seketika itu pula cintanya di terima
oleh Aisyah Alhamso’.
Dia pun bersukur kepada Allah, dan berkata “Ya Allah,.
Jadikanlah hubungan kami sebagai penghubung kami kepadamu..”
Tapi waktu dan keadaan tak mendukung cinta mereka,
telah tiba saat untuk mulai menjalani kehidupan masing-masing, Ibnu Wahab harus
kembali menjalani pendidikannya di Demak, dan Aisyah Alhamro’ harus kembali ke
penjara suci.
Tanpa ada komunikasi, mereka menjalani hubungan suci,
di titipkannya cinta yang luar biasa kapada Allah, dengan kesetiaan yang selalu
dijaga
#syaFa