Ini kisah tentang Aisyafa Al-Hamro’, seorang
gadis mungil yang baru saja menginjak usia 16 tahun November kemaren, sekarang mungkin
sudah terlihat agak dewasa, tapi sejak usia 12 tahun hidupnya sudah dipenuhi
dengan segerombolan orang yang selalu mengutarakan tentang perasaan mereka,
awalnya Aisyafa tak pernah mengharapkan itu semua, ia hanya ingin menggapai
cita-cita setinggi mungkin, agar bias menjadi sosok yang membanggakan dimata
kedua orang tuanya.
Tapi dengan selalu hadirnya rasa-rasa yang
tak pernah ia harapkan itu, Aisyafa ikut hanyut terlena didalamnya. Sejak kecil
ia sudah kenal dengan rasa benci, saying, bahkan cinta. Dia memang sudah
terkenal sebagai anak nakal, tapi nakal bukan dalam segi negatif semua,
kenakalannya mungkin hanyakarena dia sering membantah pada guru, cerewet,
semaunya sendiri, dan ya begitulah.
Dalam sejarah hidupnya dia tak pernah berani
mengenal yang namanya cinta, tapi dengan bergulirnya waktu dan semakin tambah
dewasanya usia, dia mulai berani mengenal benih teka-teki, teka-teki yang tak
pernah ia tahu apa arti dari semua itu, semua bergulir begitu saja, tanpa
adanya akal fikiran yang tersadar.
Kelas 6 SD adalah pertama ia punya ikatan
khusus dengan lawan jenis, dan aakhirnya pun berahkir, kelas 2 MTs dia berani membuka hatinya lagi
untuk seseorang dan menjalin ikatan pula, tapi sebelum itu, dikelas 1 MTs ada
yang mengutarakan isi hatinya, dia bernama Fahmi Fais, tapi Aisyafa tidak
berani menerimanya, bahkan bias dikatakan ditolak mentah-mentah, Aisyafa
melakukan itu dengan alasan dia menganggap Fahmi Fais adalah sosok seorang
kakak dimatanya, seorang kakak yany ia anggap sebagai panutan untuk menuju
jalan yang lebih baik, dia merasa marah pada dirinya sendiri, dia selalu
mengatakan “mengapa harus dia orang yang selama ini aku anggap kakak, tapi dia
malah memiliki rasa yang penuh dengan teka-teki”
Akhirnya dalam waktu yang lumayan lama,
hubungan silarurrohim mereka terputus, mereka sama-sama diam membisu, semuanya
tak berjalan seperti apa yang difikirkan Aisyafa, Aisyafa hanya ingin Fahmi
Fais kembali menjadi teman sakaligus seorang kakak baginya, tapi Fahmi Fais tak
bias, dia hanya dan selalu diam membisu, seolah-olah dia sudah tidak ada
semangat hidup, dalam menjalankan kesehariannya dia hanya diam, diam dan diam.
Aisyafa merasa bersalah akan hal itu, tapi
tidak bias di pungkiri, Aisyafa tidak mencintainya sama sekali, hingga suatu
malam Aisyafa meliha Fahmi Fais sedang berdiri terdiam dan termenung, Aisyafa
mencoba memanggilnya dengan satu kata “Fahmi” entah suaraku yang telah
menyadarkan dia, atau entah bagimana, tapi seketika itu juga secercah senyuman
terlihat dari bibirnya, Aisyafa bahagia dapat melihat senyumannya kembali.
Dengan bergulirnya waktu, namanya selalu dan
sering terdengar di telinga Aisyafa, tanpa disadari hatinya selalu menghadirkan
teke-teki tentangnya, tapi dia tak tau, apakah Fahmi Fais masih memiliki rasa
itu, dan aku masih memendam rasa itu, hingga akhirnya di kelas 3 MTs aku
dengannya menjalin sebuah ikatan tepat pada tanggal 19 juni 2013, ikatan yang
awalnya hanya sebuah permainan, tapi kita menjalaninya tetap dengan senyuman,
Aisyafa sadar bahwa dia menyayanginya, tapi rasa sayang itu masih sangat
standar.
Semakin lama mereka semakin larut dalam
perasaan, lama kelamaan Aisyafa banyak tau tentang Fahmi Fais, mulai dari
sifat, kepribadian, kebiasaan,bahkan perilakunya, dan ternyata Aisyafa belum
bias berpatisipasi dengan semua itu, Aisyafa menganggap bahwa mereka bertolak
belakang, hingga akhirnya 5 agustus 2013 hubungan mereka kandas.
Aisyafa tak sadar mengapa semua itu terjadi,
tapi perasaanya kepada Fahmi Fais seketika itu juga lenyap, awalnya Fahmi Fais
tak mau hubunganmereka berakhir, tapi Aisyafa selalu memaksa “putus… putus… ya
putus…” hingga Fahmi Fais pun pasrah, dan mereka mengikrarkan sebuah janji “Kami
tidak akan pacaran sampai lulus MA”.
Selang 6 bulan Aisyafa mengingkari janji
tersebut, tanggal 14 february 2014 dia menjalin hubungan dengan seseorang tanpa
sepengetahuan Fahmi Fais, awalnya dia tak merasa bersalah sedikitpun, mereka
menjalin hubungan hingga bulan oktober, dia mengira bahwa Fahmi Fais tak
mengetahui hal itu, ternyata tanpa kusadari sejak tanggal 5 september 2014
Fahmi Fais sudah mengetahuinya, tapi dia hanya diam, dia memendam rasa sakit
itu sendiri.
Semenjak itu rasa bersalhpun datang, Aisyafa
tak tau harus berbuat apa, kata maaf saja baginya tak sebanding dengan apa yang
telah di perbuat, dia begitu bodoh, begitu hina, dia terlalu menuruti nafsu,
berulang kali dia meminta maaf, dan jawaban dari Fahmi Fais tetap “ya, gak
apa-apa” walau Aisyafa tahu betapa teririsnya hatinya Fahmi Fais karenanya,
tapi Fahmi Fais selalu tegar, dia menerima dengan ikhlas.
Aisyafa merasa bangga akan sosok Fahmi Fais,
wajar dan pantas jika Fahmi Fais membenci Aisyafa, kesalahannya teramat sangat
parah, bahkan seharusnya tak ada kata maaf lagi baginya, tapi tidak dengan
Fahmi Fais, dia memaafka semua kesalahan Aisyafa dengan tulus, Aisyafa
mengaguminya, baginya Fahmi Fais yang sekarang bukan Fami Fais yang dulu.
Dan akhirnya pada tanggal 5 oktober 2014,
tepatnya hari raya idul adha meraka bertemu di MAJT, Aisyafa sangat bahagia
dapat berjumpa dengan Fahmi Fais, tanpa ia sadari, ternyata didalam hatinya
masih tersimpan nama Fahmi Fais, dia mengutarakan semua itu kepada Fahmi Fais,
dan Aisyafa mengakhiri hubungannya dengan lelaki yang tadi dan kembali
kepelukan Fahmi Fais.
Mereka memulainya dari nol, membuka lembaran
baru, menumbuhkan keharmonisan yang lebih mendalam, dan menjadikan masa lalu
sebagai pelajaran, mereka menjalani dengan saying dan cinta yang berbeda dengan
tahun lalu, rasa peduli dan perhatian yang lebih, ras asolidaritas dan
kedewasaan yang tinggi, mereka hanya berharap ini adalah kisah cinta terakhir
mereka.
Fahmi Fais dan Aisyafa yang berharap
hubungan mereka tak akan pernah berahir hingga ahir hayat. (amiin)…
Dan sampai sekarang hubungan mereka masih
berjalan dalam taraf keharmonisan, berharap sang Kholiq menyatukan mereka dalam
satu ikatan suci. (amiin)…
*Kisah nyata antara Fahmi Fais dan Aisyafa
Al-Hamro’