Sabtu, 31 Januari 2015

CerPen_Ku

love
Sebuah alur cerita hidup yang penuh dengan ma’na, berawal dari seorang teman yang berubah menjadi teka-teki.
Ini kisah tentang Aisyafa Al-Hamro’, seorang gadis mungil yang baru saja menginjak usia 16 tahun November kemaren, sekarang mungkin sudah terlihat agak dewasa, tapi sejak usia 12 tahun hidupnya sudah dipenuhi dengan segerombolan orang yang selalu mengutarakan tentang perasaan mereka, awalnya Aisyafa tak pernah mengharapkan itu semua, ia hanya ingin menggapai cita-cita setinggi mungkin, agar bias menjadi sosok yang membanggakan dimata kedua orang tuanya.
Tapi dengan selalu hadirnya rasa-rasa yang tak pernah ia harapkan itu, Aisyafa ikut hanyut terlena didalamnya. Sejak kecil ia sudah kenal dengan rasa benci, saying, bahkan cinta. Dia memang sudah terkenal sebagai anak nakal, tapi nakal bukan dalam segi negatif semua, kenakalannya mungkin hanyakarena dia sering membantah pada guru, cerewet, semaunya sendiri, dan ya begitulah.
Dalam sejarah hidupnya dia tak pernah berani mengenal yang namanya cinta, tapi dengan bergulirnya waktu dan semakin tambah dewasanya usia, dia mulai berani mengenal benih teka-teki, teka-teki yang tak pernah ia tahu apa arti dari semua itu, semua bergulir begitu saja, tanpa adanya akal fikiran yang tersadar.
Kelas 6 SD adalah pertama ia punya ikatan khusus dengan lawan jenis, dan aakhirnya pun berahkir,  kelas 2 MTs dia berani membuka hatinya lagi untuk seseorang dan menjalin ikatan pula, tapi sebelum itu, dikelas 1 MTs ada yang mengutarakan isi hatinya, dia bernama Fahmi Fais, tapi Aisyafa tidak berani menerimanya, bahkan bias dikatakan ditolak mentah-mentah, Aisyafa melakukan itu dengan alasan dia menganggap Fahmi Fais adalah sosok seorang kakak dimatanya, seorang kakak yany ia anggap sebagai panutan untuk menuju jalan yang lebih baik, dia merasa marah pada dirinya sendiri, dia selalu mengatakan “mengapa harus dia orang yang selama ini aku anggap kakak, tapi dia malah memiliki rasa yang penuh dengan teka-teki”
Akhirnya dalam waktu yang lumayan lama, hubungan silarurrohim mereka terputus, mereka sama-sama diam membisu, semuanya tak berjalan seperti apa yang difikirkan Aisyafa, Aisyafa hanya ingin Fahmi Fais kembali menjadi teman sakaligus seorang kakak baginya, tapi Fahmi Fais tak bias, dia hanya dan selalu diam membisu, seolah-olah dia sudah tidak ada semangat hidup, dalam menjalankan kesehariannya dia hanya diam, diam dan diam.
Aisyafa merasa bersalah akan hal itu, tapi tidak bias di pungkiri, Aisyafa tidak mencintainya sama sekali, hingga suatu malam Aisyafa meliha Fahmi Fais sedang berdiri terdiam dan termenung, Aisyafa mencoba memanggilnya dengan satu kata “Fahmi” entah suaraku yang telah menyadarkan dia, atau entah bagimana, tapi seketika itu juga secercah senyuman terlihat dari bibirnya, Aisyafa bahagia dapat melihat senyumannya kembali.
Dengan bergulirnya waktu, namanya selalu dan sering terdengar di telinga Aisyafa, tanpa disadari hatinya selalu menghadirkan teke-teki tentangnya, tapi dia tak tau, apakah Fahmi Fais masih memiliki rasa itu, dan aku masih memendam rasa itu, hingga akhirnya di kelas 3 MTs aku dengannya menjalin sebuah ikatan tepat pada tanggal 19 juni 2013, ikatan yang awalnya hanya sebuah permainan, tapi kita menjalaninya tetap dengan senyuman, Aisyafa sadar bahwa dia menyayanginya, tapi rasa sayang itu masih sangat standar.
Semakin lama mereka semakin larut dalam perasaan, lama kelamaan Aisyafa banyak tau tentang Fahmi Fais, mulai dari sifat, kepribadian, kebiasaan,bahkan perilakunya, dan ternyata Aisyafa belum bias berpatisipasi dengan semua itu, Aisyafa menganggap bahwa mereka bertolak belakang, hingga akhirnya 5 agustus 2013 hubungan mereka kandas.
Aisyafa tak sadar mengapa semua itu terjadi, tapi perasaanya kepada Fahmi Fais seketika itu juga lenyap, awalnya Fahmi Fais tak mau hubunganmereka berakhir, tapi Aisyafa selalu memaksa “putus… putus… ya putus…” hingga Fahmi Fais pun pasrah, dan mereka mengikrarkan sebuah janji “Kami tidak akan pacaran sampai lulus MA”.
Selang 6 bulan Aisyafa mengingkari janji tersebut, tanggal 14 february 2014 dia menjalin hubungan dengan seseorang tanpa sepengetahuan Fahmi Fais, awalnya dia tak merasa bersalah sedikitpun, mereka menjalin hubungan hingga bulan oktober, dia mengira bahwa Fahmi Fais tak mengetahui hal itu, ternyata tanpa kusadari sejak tanggal 5 september 2014 Fahmi Fais sudah mengetahuinya, tapi dia hanya diam, dia memendam rasa sakit itu sendiri.
Semenjak itu rasa bersalhpun datang, Aisyafa tak tau harus berbuat apa, kata maaf saja baginya tak sebanding dengan apa yang telah di perbuat, dia begitu bodoh, begitu hina, dia terlalu menuruti nafsu, berulang kali dia meminta maaf, dan jawaban dari Fahmi Fais tetap “ya, gak apa-apa” walau Aisyafa tahu betapa teririsnya hatinya Fahmi Fais karenanya, tapi Fahmi Fais selalu tegar, dia menerima dengan ikhlas.
Aisyafa merasa bangga akan sosok Fahmi Fais, wajar dan pantas jika Fahmi Fais membenci Aisyafa, kesalahannya teramat sangat parah, bahkan seharusnya tak ada kata maaf lagi baginya, tapi tidak dengan Fahmi Fais, dia memaafka semua kesalahan Aisyafa dengan tulus, Aisyafa mengaguminya, baginya Fahmi Fais yang sekarang bukan Fami Fais yang dulu.
Dan akhirnya pada tanggal 5 oktober 2014, tepatnya hari raya idul adha meraka bertemu di MAJT, Aisyafa sangat bahagia dapat berjumpa dengan Fahmi Fais, tanpa ia sadari, ternyata didalam hatinya masih tersimpan nama Fahmi Fais, dia mengutarakan semua itu kepada Fahmi Fais, dan Aisyafa mengakhiri hubungannya dengan lelaki yang tadi dan kembali kepelukan Fahmi Fais.
Mereka memulainya dari nol, membuka lembaran baru, menumbuhkan keharmonisan yang lebih mendalam, dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, mereka menjalani dengan saying dan cinta yang berbeda dengan tahun lalu, rasa peduli dan perhatian yang lebih, ras asolidaritas dan kedewasaan yang tinggi, mereka hanya berharap ini adalah kisah cinta terakhir mereka.

Fahmi Fais dan Aisyafa yang berharap hubungan mereka tak akan pernah berahir hingga ahir hayat. (amiin)…
Dan sampai sekarang hubungan mereka masih berjalan dalam taraf keharmonisan, berharap sang Kholiq menyatukan mereka dalam satu ikatan suci. (amiin)…










*Kisah nyata antara Fahmi Fais dan Aisyafa Al-Hamro’


Tidak ada komentar:

Posting Komentar